Langsung ke konten utama

Selamat Datang Gubernur (DKI Jakarta) Baru

Demam politik ibukota negara mengalahkan isu nasional dan lokal seantero negeri. Sebagian isu tenggelam entah untuk sementara atau selamanya. Energi, waktu dan usaha banyak terkuras untuk pilkada DKI. Orang yang punya hak pilih dan memiliki calon idaman boleh saja bicara dan berharap realistis terhadap momen tersebut. Namun tidak lantas menutup diri dan mencemooh opini dari warga luar Jakarta. As we know, ibukota negara memiliki porsi yang lebih besar dalam berbagai hal daripada kota lainnya. Anggaran pembangunan, kesempatan kerja, permasalahan sosial, kriminalitas, hingga sektor wisata bersatu padu menciptakan nuansa khas kota metropolitan. Wajar dan sah sah saja jika banyak opini dan analisis ilmiah dari berbagai kalangan untuk Jakarta. Rasa kepemilikan sebagian orang atas Jakarta sebagai ibukota negara memunculkan kepedulian untuk sekadar berbicara.

Hasil hitung cepat yang ditayangkan stasiun televisi swasta menyebutkan paslon norut 3 mengungguli paslon norut 2. Selisihnya lebih dari 10%. Dengan legowonya ucapan selamat mengalir dari paslon petahana. Meskipun rilis resmi dari KPU belum diterbitkan, masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya sudah percaya dengan lembaga survei yang memberikan hasil pilkada. Kita belum lupa dengan pilpres dan pilkada serentak beberapa waktu yang lalu dimana lembaga survei memberikan gambaran hasil pencoblosan dengan cepat. Layar di televisi mulai menampilkan hasil penghitungan di TPS sampel pada siang hari dan menjelang malam sudah terlihat hasilnya hampir 100%.

Terlepas dari demam pilkada dan quick count, kita tentu menyambut gubernur baru dengan harapan baru. Siapapun paslon pilihan kita dan sekecil apapun respect kita pada paslon terpilih, harapan itu selalu ada. Kecewa dengan paslon kita yang kalah merupakan hal yang wajar. Bangga dengan pencapaian hasil penghitungan suara juga tak bisa terbantahkan. Dalam dua kondisi itu kita selalu menemukan harapan kepada gubernur baru. Tentang kemajuan pembangunan kota, kesejahteraan warga, keamanan dan ketenangan serta kemudahan dalam beraktivitas. Sekalipun tidak memiliki hak pilih dalam pilkada DKI Jakarta, saya menaruh harapan yang besar bahwa gubernur terpilih mampu membangun Jakarta lebih baik lagi. Kita bisa melihat Surabaya yang dinahkodai Bu Risma atau Pak Ridwan Kamil di Bandung yang mengangkat nama kota masing-masing menjadi lebih baik di mata publik. Mereka gigih membangun citra positif dan rasa bangga dalam diri warganya. Kerja keras itu tidak hanya berasal dari sosok pemimpinnya saja melainkan seluruh jajaran pemerintahan yang kompak untuk maju bersama. Jakarta telah menemukan pemimpinnya yang baru. Gaya yang berbeda dan khas akan muncul. Kebijakan baru akan diterbitkan dan disosialisasikan. Kita akan kembali bekerja atau sekolah lagi besok. Seperti jargon Pak Ahok, 'Kerja Pagi' dengan mulai 'Berlari untuk Berbagi' (*tulisan di t-shirt Pak Sandiaga). Kontribusi kita tidak hanya sumbangan suara tapi lebih dari itu. Apa yang bisa kita lakukan? Banyak. Seperti bekerja dengan sebaik-baiknya, buang sampah pada tempatnya, memberi masukan kepada pemerintah, menggunakan kendaraan umum ke kantor, menjaga keamanan di lingkungan rumah, dan sebagainya. Itu hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari.

Pak Ahok berkata #JakartaPunyaSemua yang dibutuhkan warga untuk bangun dan membangun Jakarta. Yang kita butuhkan adalah kerja pagi dengan mulai berlari untuk berbagi. Saya bukan warga Jakarta tapi saya peduli dengan perkembangan Jakarta. Tinggal selama beberapa bulan di Jakarta menciptakan keterikatan emosional dalam diri saya. Hiruk pikuknya selalu membuat semangat dalam menjalani hidup. Jakarta keras, banyak orang berkata demikian. Disana kamu hanya ingin bekerja sebaik-baiknya sebagai apapun itu. Jakarta punya semua untuk membangun manusia dan budayanya.

Setelah ritme lari kembali normal, kita akan kembali ke Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur yang tengah bersiap menyambut tokoh terbaiknya tahun depan. Seperti Jakarta yang mendapat dukungan dari banyak pihak, kami pun ingin didukung secara sehat dalam mencari pemimpin daerah yang membangun manusia dengan manusiawi dan menciptakan peradaban yang lebih baik. Doakan kami!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...