Langsung ke konten utama

Terimakasih

Terimakasih,
Karena dalam banyak kesempatan kamu begitu baik terhadapku.
Karena dalam setiap luka yang kamu berikan, aku selalu bisa berpikir jernih untuk tidak membalasnya dengan keburukan.

Terimakasih,
Karena aku bisa mengenal seseorang yang mampu menunjukkan kesalahanku. Orang lain hanya memujiku dan mengagumi keberanianku. Tetapi kamu justru menghinaku dengan sarkasnya.

Kamu berkata kita bisa menjadi teman setelah hari ini. Sungguh lega mendengarnya. Maka aku memilih untuk memenuhi permintaanmu. Menjadi teman baik pun adalah penghargaan besar bagiku. Sejak saat itu aku mulai menanamkan dalam otakku untuk memaafkan segala macam ejekanmu. Aku harus berpikir bahwa persimpangan yang kita temukan justru membawa perbedaan rute dan itu tidak jadi soal. Toh dunia tidak seluas yang kita bayangkan. Aku mulai menumbuhkan niat untuk menjadi teman baikmu. Jika suatu saat kamu memanggil atau membutuhkan bantuan, aku akan disana. Meskipun hanya melihatmu dari kejauhan atau berdiri dihadapanmu dan tersenyum.

Menjadi temanmu, aku tidak merasa berkecil hati. Mungkin dulu cinta begitu egois. Perlahan, hatiku mulai lapang. Udara bisa memasuki ruang-ruang didalamnya. Aku hidup kembali setelah kemarahan membuat penuh sesak dan aku kehilangan kendali.

Terimakasih.
Maafkan aku yang belajar sangat lambat. Apakah kamu masih mau menjadi temanku? Aku bukannya terlanjur putus asa dan tidak menemukan orang lain sehingga menanyakan hal itu. Bagiku, permintaan itu ibarat sebuah kepercayaan. Mana bisa aku menolaknya? Seburuk apapun diriku, aku tidak ingin mengecewakan kepercayaan orang terhadapku. Karena aku tahu menumbuhkan rasa percaya bukan hal yang mudah.

Terimakasih,
Aku tidak tahu apakah aku bahagia atau tidak saat ini. Apakah aku akan baik-baik saja atau tidak esok hari. Yang aku tahu, aku memiliki seorang teman disana. Aku tidak mengkhawatirkan apa-apa lagi sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...