Langsung ke konten utama

Happy 26 to Me

Subhanallah
Alhamdulillah
Laailaahailallah
Allahu Akbar

Rasanya luar bisa sudah mengelilingi matahari sebanyak 25 kali. Kuasa Allah yang telah mengijinkan saya hidup seperempat abad lebih. Akan sampai hitungan keberapa nafas + iman ini masih penuh rahiim dari Nya? Apa yang sudah saya lakukan untuk Nya selalu saja terlampau sedikit dibandingkan kemurahan Nya.

Menapaki usia yang tidak lagi remaja sungguh mendebarkan. Apakah jalan yang saya ambil benar? Apakah Allah ridha dengan cara hidup saya? Apakah saya mampu bertahan dengan baik diantara milyaran manusia? Memasuki 26 tidak seperti meninggalkan 19. Menemukan pasangan, berkeluarga, memantapkan karir, membesarkan anak-anak, merawat orang tua dan mewujudkan cita-cita adalah kerja-kerja realistis di masa dewasa.

Cita-cita hari ini pasti berbeda dengan cita-cita kemarin. Siapa yang masih bercita-cita naik balon udara di usia 26? Ada yang bergeser, ada yang berubah, ada pula yang bertahan. Segala sesuatu yang diharapkan terjadi telah berimprovisasi dengan daya, upaya, realita dan dukungan masa. Sebenarnya masih memikirkan hal gila yang ingin dilakukan selama hidup. Ya, hal gila yang tidak terpikirkan sekalipun. Bukan untuk mengejar sensasionalitas tapi menghargai keunikan hidup yang Allah berikan.

Saya masih terisak mengingat Al Aqsha, dendamkah sampai ingin menginjakkan kaki disana? Entahlah. Ketidakindahan yang selalu orang hindari tapi setidaknya malaikat pernah turun dan mengangkat sang Nabi ke langit. Pertumpahan darah yang abadi selalu menyakitkan sanubari. Bagaimana kota itu bertahan? Mungkin itulah yang membuat hati ingin merasakan udara dunia-akhirat yang bersatu. Kompleksitas duniawi ukhrawi lantas menimbulkan hasrat, i wanna be there to feel the life.

Apakah itu hal gila? Mengunjungi daerah konflik paling ekstrem di dunia. Memandang segala sudut kota yang tanpa harapan. Kemudian terisak hanya dengan membayangkannya. Saya tidak tahu apakah ada kesempatan untuk melangkahkan kaki kesana. Hanya keinginan itulah yang tetap benderang menyala.

Inilah akhir seperempat abad yang gado-gado. Bahagia rasanya memperoleh hidup yang memerlukan sebesar-besarnya keberanian. Saya berani untuk meninggalkan rumah semakin jauh, berjalan ke segala arah dan kadang kehilangan arah. Hal-hal menyakitkan, menggelisahkan, mengecewakan telah berlalu. Hari buruk mungkin menyebabkan badan menggigil dan putus asa. Yang lain memberikan harapan dan kelegaan. Setidaknya kebaikan orang-orang sangat membantu untuk berlanjutnya hidup saya. Apapun yang membuat diri jatuh, hadapi saja. Angin kencang tak selamanya berhembus. Meski hujan tak selamanya mendinginkan jiwa raga.

Hari ini saya merasa baik, tahun ini tahun yang baik. Semakin dewasa terasa semakin baik. Agak berlebihan memang tapi saya tetap harus bersyukur dengan pemberian Nya.

Saya masih ingin membangun perpustakaan dirumah. Membiarkan anak-anak bermain dan belajar. Nampaknya memiliki toko buku dilengkapi cafe kecil akan menyenangkan. Ditambah sudut souvenir benda-benda kreatif dengan konsep minimalis. Itulah rumah impian, tanpa pagar tinggi. Tanaman setinggi lutut sudah cukup memberikan batas.

Ternyata, keinginan dalam hidup semakin sederhana. Tanpa piala-piala, tanpa jadwal padat merayap setiap hari. Akan menyenangkan sekali memiliki aktivitas setiap saat. Tidur dalam kondisi lelah, menulis sebagai kegiatan paling utama. Memiliki anak-anak yang ramai dan lincah. Bertetangga dengan mereka yang peduli dengan hidup sederhana dan bermakna. Saya pikir, saya masih idealis perfectionist. Menginginkan hal besar terjadi dalam hidup dengan melupakan hal sederhana dan nyata untuk dilakukan.
Saya berharap bangun segera dari mimpi. Bergegas bekerja dengan sekeras-kerasnya dan sesenang-senangnya. Dengan sepenuh hati mencintai keluarga yang akan segera dimiliki. Allah, bukankah keinginan itu tidak ada yang Kau murkai? Perkenankanlah kiranya apa-apa yang membuat Mu ridha terhadap hamba.

Enrekang, 9 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...