Langsung ke konten utama

Aku tidak Pulang

Sejauh apapun kau pergi, kembalilah pulang ke rumahmu.

Momentum Idul Fitri identik dengan mudik dan silaturahim. Kue dan aneka hidangan tumpah ruah di atas meja. Gelas-gelas dicuci bersih. Puasa tinggal 1 hari lagi. Rumah berbenah, masjid dibersihkan untuk menyambut Hari Raya nan Agung. I'tikaf tinggal penutupnya bagi para perindu Nya.

Mudik terasa sekali bagi saya yang 5 kali ramadhan berpuasa di Semarang. Dengan jarak 7-8 jam perjalanan normal, rasanya wajar kalau menyebutnya mudik seperti orang kebanyakan. Rute yang melawan arus mudik pada umumnya membuat saya tidak kentara terkena kemacetan. Pernah satu kali ketika mudik harus duduk diantara tumpukan barang-barang di bus. Berdiri kuat diantara pemudik yang terpaksa menaiki bus ekonomi yang penuh sesak. 2015, saya menunaikan Ramadhan dirumah setelah resign dari pekerjaan lama.

Sepanjang Juli 2015 hingga Juli 2016 ada berbagai peristiwa yang saya lewatkan. Pernikahan teman dekat yang tidak bisa didatangi, kelulusan teman sekampus yang meriah, kondisi keuangan yang pailit, beberapa berita kematian yang mengagetkan hingga sesuatu yang membuat diri rasanya ingin mati saja. Tawa tak bisa disembunyikan dan airmata seenaknya mengalir tanpa malu. Begitulah setahun yang mengharukan. Saya belum melihat apakah setahun ini membuat kerutan diwajah atau tidak. Tapi ada sesuatu dalam diri yang berubah. Mungkin karena saya sudah meninggalkan usia seperempat abad. Hehe.

Pulang adalah keharusan bagi saya. Alarm akan berbunyi jika saya sudah homesick. Saya beberapa kali sakit ringan seperti masuk angin, maag, atau anemia. Sampai pada suatu kali saya hampir 3 minggu unfit. Seminggu mulai ambruk, seminggu tidak berdaya, dan seminggu pertahanan tubuh memburuk. Agak berlebihan memang, saya hanya berpikir akan sekarat saja. Thank God. Setelah memaksakan diri untuk kembali hidup normal, saya perlahan mau makan dan minum obat. Vonis dokter jatuh secara mengerikan. Kurang gizi, kelelahan, dan stres. Meski agak malu mengakuinya saya berpikir wajar saya ambruk. Pola makan yang 'semau gue' dan rutinitas yang melelahkan mengikis stamina. Masih ada 4 bulan lebih untuk pulang. Saya memutuskan untuk sehat.

Memasuki Juli 2016 yang nano-nano, rasanya keinginan pulang tak terbendung.
Apalah daya, kaki malah sampai di Toraja. Antara percaya dan tidak percaya. Hidup memang misterius. Tidak menyangka bisa berkunjung ke tempat sekeren ini. Saya harus bersyukur banyak-banyak. Fix. Idul Fitri dirayakan bersama dengan orang-orang yang baru dikenal seminggu-dua minggu.

Bagaimana rasanya? Kadang rindu, lebih sering takut. Orang-orang yang saya temui berkata kalau saya pemberani. Justru disaat itulah saya merasa takut parah. Timbul dalam benak saya 'Mau sampai kapan seperti ini terus?' Adakalanya kesepian dalam perjalanan jauh dan melelahkan ini. Bosan? Sesekali. Namun banyak hal baru dan menginspirasi setiap saat. Cerita terus mengalir, potret menggambarkan banyak budaya. Bisa saja tiba-tiba rindu orang rumah. Kemudian lanskap sejuta pesona mendadak hampa. Ternyata rindu tak semudah itu disingkirkan dari benak.

Saya tidak tahu bagaimana rasanya besok malam. Pun tidak hendak membayangkan bagaimana Rabu pagi. Biarkan tangis pecah. Rindu akan membuncah. Saya hanya harus bersyukur. Bulan depan saya berkesempatan pulang memeluk realitas. Bertemu dengan orang tua luar biasa dan saudara-saudara. Saya percaya, seluruh hari tetap baik adanya. Kapanpun saya kembali akan ada sambutan hangat disana.

Pak, Bu. Taqabalallahu mina waminkum, taqabbal ya kariim. Aamiin. Mohon maaf lahir dan batin. Tunggulah kepulangan anakmu dari tanah seberang. Bahagia ya disana..

Ramadhan ke 29.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...