Langsung ke konten utama

Mempertahankan Rasa Manis [ semua orang ingin selalu berada pada posisi terbaik ]



Semangkuk sup buah aneka warna akan lezat disantap saat cuaca cerah. Ditemani teman bicara yang akrab akan menambah nuansa agenda makan siang kita. Jika membeli sup buah di pinggir jalan atau di resto favorit kita akan bertemu dengan buah aneka rupa dan warna dilumuri dengan susu, es batu serut dan sirup merah merona. Sekali waktu kamu perlu menjajal buah-buahan yang ada dikulkas tanpa susu, es, sirup atau sambal yang pedas. Potonglah kecil-kecil dan taruh dimangkuk cantik atau wadah kesayangan kamu. Buah apa yang kamu miliki didalam kulkas? Buah naga, apel, pisang, mangga, bengkuang, salak, anggur, pepaya, pir, atau melon. Potong saja sesuai bentuk yang kamu sukai. Ingat, jangan menambahkan perasa seperti sirup atau yang sejenisnya. Es boleh ditambahkan untuk menambah sensasi dingin buah tersebut jika kamu mau.

Bagaimana rupanya? Kurang menarik? Buah apa yang kamu makan pertama kali? Yang manis ataukah yang asam? Dalam table manner, apabila diatas meja tersedia menu beraneka rasa mulailah dari yang manis terlebih dahulu kemudian baru memakan makanan yang gurih, pedas atau yang lain. Ketika kita memakan cemilan atau kudapan yang asin terlebih dahulu kemudian baru memakan yang manis, rasanya akan aneh. Rasa brownies setelah kita mengunyah pastel akan bercampur dengan asinnya pastel sehingga manisnya brownies tidak semanis yang sesungguhnya. Pernah mencobanya?

Ternyata memakan buah pun begitu. Cobalah makan buah yang manis terlebih dahulu, kemudian baru memakan yang agak asam hingga paling asam. Bagaimana rasanya? Manisnya buah pertama tidak akan hilang karena ia tidak bercampur dengan asamnya buah yang lain. Hal ini tentu berlawanan pada saat kita minum jamu. Dimana jamu utama akan diminum terlebih dahulu kemudian baru meminum pemanisnya. Tujuan meminum jamu dan makan buah pun berbeda. Jadi perlakuannya pun berbeda. Makan buah atau sup buah ditujukan untuk mencari kemanisan buah tersebut. Sedangkan meminum jamu diutamakan untuk mengambil manfaat dari ramuan yang pahit sehingga yang manis pun hanya sedikit saja porsinya.

Manajemen Kemanisan    

Tujuan kita makan buah dan jamu berbeda. Oleh karena itu, proses menikmatinya pun berbeda cara. Bagaimana dengan menikmati setiap kemanisan dan kepahitan hidup?

Yang pahit maupun yang manis sama-sama membawa manfaat bagi kita. Pada persoalan lain pun demikian, pada intinya semua orang ingin selalu berada pada posisi terbaik. Orang cenderung menghindari kesulitan atau penderitaan sehingga membuat mereka meminum penawar untuk meredakan kepahitan jamu atau kita memilih makanan yang manis dulu untuk menghindari berkurangnya kemanisan dari buah yang kita makan. Tidak ada yang salah dengan cara tersebut, bukankah kita diperintahkan oleh Tuhan untuk memilih yang baik daripada yang buruk?

Hidup tak sesederhana minum jamu atau makan buah bukan? Kadangkala harus mendahulukan prinsip, lain waktu malah tidak perlu memikirkan repot-repot tentang esensi. Toh semua orang hanya ingin mengambil yang terbaik dari banyak pilihan yang disediakan. Namun hidup adalah tentang pilihan. Kita berhak memilih selama pilihan tersebut tidak mengganggu hak orang lain.

Semoga kita senantiasa bahagia dan melakukan hal yang benar dalam mencapai kemanisan hidup..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...