Langsung ke konten utama

Apa Kabar Impian?



 Dalam rentang lima kali putaran bumi mengelilingi matahari, ratusan impian tertulis. Bahkan diucapkan dihadapan kepala anak muda. Justru tersenyum senang tanpa pesimis sebagai konsekuensi logis dari kesemangatan darah muda. Lupa kalau hidup seperti pohon yang bisa menggugurkan daunnya, terhinnggapi ulat-ulat nakal atau ditebas pemiliknya sewaktu-waktu.

Aku menuliskan banyak impian diatas kertas kemudian merapalkannya diujung doa. Biar saja aku mati dalam memperjuangkan semua impian itu. Aku juga menulismu untuk sisa hidup esok dan setelah kematian datang. Mungkin Tuhan sudah hafal permintaanku dan menuliskannya terus menerus. Setidaknya aku berusaha untuk mengungkapkannya. Bersedia menceritakan satu demi satu dari apa yang aku pikirkan. Sembari mencari kawan untuk menemaniku menikmati ikhtiyar penuh cinta.

Disini, perjalanan terasa hingar oleh desah teman-teman. Ada yang tanpa impian dan sekadar mengikuti siklus. Mereka menjalani hidup dengan sewajarnya. Berusaha seperti yang diusahakan orang kebanyakan. Yang pungkasan mengecap kesuksesan dengan standar manusia biasa. Bahagia seperti yang dimaksud semua orang.

Diseberang jalan ada yang terburu-buru waktu. Seolah tidak ada spasi dalam kalimat hidupnya. Padat oleh pemenuhan kebutuhan pribadinya tanpa menengok orang lain. Ia yang tidak menikmati setiap tarikan nafas yang diberikan Tuhan kepadanya. Mesin pun berirama meski tidak selamanya. Yang mereka tahu, tak ada waktu untuk bergurau karena kesempatan hanya datang sekali. Bulan pun berputar ratusan kali.

Ada saja orang yang ingin diam ditempat tanpa ingin beranjak. Ia nyaman dengan kursinya, teduh oleh atapnya, semilir anginnya, atau rona bintang yang terlihat lebih tajam dari tempat lain. Ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain apa yang ada disekitarnya. Apa yang jatuh dari langit diatasnya, apa yang keluar dari bumi yang dipijaknya. Itulah yang Ia dapatkan.

Ah. Mana mau orang digolongkan seperti ini dan itu. Mana boleh aku memvonis mereka seperti ini dan seperti itu. Semua orang pasti ingin dicap terbaik. Mengakui kekurangannya dalam sepi manusia dan ditepian keramaian pekerjaan. Mereka tidak melulu sama seperti yang ada dalam pikiranku, juga pikiranmu. 

Setiap saat selalu ada harapan untuk lebih baik dan lebih bahagia. Dengan imian-impian, ada arah kemana hidup mesti ditapaki. Menulis impian tentu dengan pertimbangan-pertimbangan akal serta kemampuan. Apalah jadinya jika Tuhan mengabulkan kita dapat hidup di kutub? Semanis perjalanan keliling negeri nan indah atau memotret banyak kepunyaan Nya. Ia mengabulkan apa yang kita butuhkan sesuai kadarnya.

Apa kabar impian? Ia mewujud dalam bahasa langit lantas meretas dalam tetes takdir. Aamiin

March, 24th 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...