Langsung ke konten utama

Sekolah Kader Bangsa


Mahasiswa Baru 2011 disambut dengan berbagai kegiatan yang membangun wawasan dan karakter mereka akan dunia kampus. Rangkaian kegiatan mulai dari Program Pengenalan Akademik, Makrab, hingga Unnes Fair digelar untuk mengenalkan kondisi kekampusan kepada mahasiswa. Sedangkan kegiatan yang dikemas khusus untuk menbangun karakter calon pemimpin kampus sangat terbatas. Apalagi kebutuhan akan aktivis yang berkarakter merupakan seuatu yang harus dipenuhi lembaga kemahasiswaan. Training Kader Bangsa (TKB) lahir dalam suasana kampus yang haus akan pengisi pos-pos lembaga kemahasiswaan tersebut. Dalam prosesnya, penekanan TKB yaitu pada penumbuhkan karakter bangsa yang dimiliki Indonesia sejak dahulu.

Sekolah Kader Bangsa (SKB) adalah salah satu pendidikan karakter mahasiswa yang dilaksanakan oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (Dept.PSDM) BEM KM Unnes. Dalam prosesnya, SKB memberikan substansi karakter yang harus dimiliki aktivis sebagai bekal awal memasuki dunia kampus sehingga mampu menyikapi fenomena yang ada disekitarnya dengan baik. Bekal tersebut akan bermanfaat ketika mahasiswa aktif pada lembaga kemahasiswaan atau unit kegiatan mahasiswa sehingga mampu beradaptasi lebih tepat.

SKB memiliki alur kaderisasi yang bertahap dimana pada masing-masing tahapakan berbeda konten yang disampaikan. Sesi awal SKB dimulai dengan Training Kader Bangsa (TKB) yang akan di laksanakan pada pertengahan Oktober 2011. TKB memberikan bekal bagi mahasiswa baru untuk memiliki karakter bangsa yang sudah mendarah daging pada jaman dulu. Namun pada satu dekade terakhir mengalami degradasi yang signifikan oleh arus globalisasi. Dengan adanya TKB diharapkan mahasiswa mampu mengenali dirinya sebagai bagian dari bangsa ini untuk dapat berkontribusi melalui aspek profesionalitasnya.

TKB yang berlangsung singkat dilanjutkan dengan sesi berikutnya yaitu SKB yang merupakan inti dari pendidikan karakter mahasiswa. SKB berisi materi-materi kepemimpinan, public speaking, problematika bangsa kontemporer, dan konsep diri. Materi tersebut diberikan dalam waktu 8 kali pertemuan sehingga diharapkan mampu diserap mahasiswa dengan baik. Setelah mengikuti SKB, sudah saatnya anggota yang telah menempuh TKB dan SKB dikukuhkan dalam suatu kegiatan dimana nantinya akan ada beberapa yang dinyatakan gugur dan ada yang dinyatakan lolos.

Rangkaian SKB dibuat mendasarkan pada kebutuhan aktivis pada LK dan UKM yang tengah mengalami masa krisis kader. Apatisme mahasiswa semakin meninggi dengan menurunnya antusiasme mahasiswa mengikuti kegiatan kemahasiswaan mulai dari tingkat jurusan hingga universitas. Krisis aktivis ini dipicu oleh banyak hal diantaranya kemajuan TI sehingga mahasiswa lebih asyik bergelut dengan dunia maya daripada bersosialisasi. Degradasi nilai juga mempengaruhi antusiasme mahasiswa dalam LK. Norma-norma yang berkembang dimasyarakat sudah dikesampingkan sebagian kalangan dengan dalih modernisasi. Sebenarnya menyikapi fenomena ini tidak mesti dari sisi negative saja. Memang mereka memiliki alasan untuk tidak memilih LK sebagai sebuah aktivitas membangun. Alangkah lebih baiknya waktu yang ada dimanfaatkan untuk kegiatan bermanfaat agar kompetensi mahasiswa meningkat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...