Langsung ke konten utama

Alur Kaderisasi


Alur Kaderisasi

Untuk melahirkan pemimpin-pemimpin organisasi/lembaga kemahasiswaan dibutuhkan masa pembentukan yang tidak singkat. Proses itu berlangsung terus selama mahasiswa menempuh masa pendidikan dikampus. Selama ini seringkali ditemui kader yang tidak memahami jobdresc-nya dengan baik karena proses kaderisasi yang cacat. Kader merupakan sosok yang berkembang diantara rekan-rekan mahasiswa lainnya dan mengalami masa seperti mahasiswa pada umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah kader dididik pada organisasi/lembaga kemahasiswaan yang memiliki mekanisme kaderisasi. Mekanisme (alur) kaderisasi ini akan memudahkan kader dalam meningkatkan kualitas soft skill mereka. Sehingga mereka akan mengikuti alur yang benar jika ingin kualitasnya meningkat dan berkembang dengan baik.

Dalam pembentukannya, kader memiliki alur sederhana yang akan menempa kedewasaan mereka dalam mengelola dan mengembangkan organisasi. Setiap jenjang yang dilalui merupakan penyesuaian bagi kedewasaan kader dimana tugas dan peran yang diemban akan berbeda dari jenjang ke jenjang. Semakin meningkat jenjangnya, semakin meningkat pula tugas dan peran yang harus dilaksanakan kader. Hal ini dapat dijadikan tantangan tersendiri bagi kader bahwa kesempatan belajar lebih banyak pada setiap jenjang akan digunakan sebagai penempa kualitas untuk bekal bermanfaat ditingkat selanjutnya.

Kebutuhan dan ketersediaan kader pada kenyataannya kurang begitu menggembirakan pada beberapa kurun waktu tahun terakhir. Antuasiame mahasiswa untuk aktif dalam organisasi/lembaga kemahasiswaan menurun tajam. Ada banyak sebab yang melatarbelakangi realita ini diantaranya meningkatnya teknologi informasi dimana memanjakan mahasiswa dengan game online, facebook, twitter dsb, tugas perkuliahan yang menumpuk dan kondisi organisasi/lembaga kemahasiswaan yang stagnan dalam menyajikan program kerja pada mahasiswa. Adanya jurang pemisah antara kebutuhan dan ketersediaan kader mengakibatkan alur kaderisasi banyak diabaikan aktivis sehingga menempatkan kader secara acak bahkan kadangkala mengacuhkan potensi dasar kader dalam penempatan. Dampak bagi kader dapat dilihat dari kerja nyata kader yang kurang memuaskan atau sepatutnya saja. Dampak lain yang perlu diwaspadai yaitu kedewasaan yang tidak berkembang baik karena kapasitas yang minim dalam mengelola organisasi/lembaga kemahasiswaan.

Penyebab utama dari ketidakteraturan alur ini yaitu tidak adanya rule yang mengatur kaderisasi umum bagi lembaga kemahasiswaan. Kebanyakan kampus memiliki tradisi atau adat dalam kaderisasi yang belum teratur. Sekalipun ada kampus yang secara tertulis memiliki alur kaderisasi yang jelas. Kaderisasi yang dimaksudkan kampus-kampus adalah ketika open recruitment pengurus baru atau pengenalan organisasi/lembaga kemahasiswaan pada mahasiswa baru. Padahal kaderisasi merupakan sebuah proses dimana kader dibentuk dan dididik agar menjadi kader yang handal dan mumpuni. Rule dapat dibuat oleh lembaga legislatif mahasiswa atau yang satu fungsi dengan lembaga tersebut sehingga mengikat seluruh elemen lembaga kemahasiswaan yang ada dikampus baik ditataran prodi/jurusan, fakultas maupun universitas. Dengan adanya aturan tersebut, alur kaderisasi setidaknya dapat dipantau terkait kebutuhan kader pada jenjang tertentu maupun jika menemui kendala ditengah jalan.
Harapan yang rasionalistis jika masing-masing kampus memiliki rule yang mengatur alur kaderisasi secara umum sehingga dapat digunakan dalam Keluarga Mahasiswa (KM/Kema). Dengan adanya alur kaderisasi bagi organisasi/lembaga kemahasiswaan, kebutuhan dan ketersediaan kader akan terpantau. Selain itu kaderisasi akan lebih matang dan kokoh jika memiliki sistem yang didukung semua organisasi/lembaga kemahasiswaan yang ada dikampus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...