Langsung ke konten utama

Merenungi Hidup

Sejatinya gerak langkah ini seumpama perputaran pagi dan malam. Antara itu semua ada senja dan fajar yang memberhentikan langkah ini untuk bernafas dan menghirup indahnya iman. Dengan mata yang sanggup melihat untuk lebih bersyukur, dengan hati yang mampu merasakan untuk lebih peka, dan dengan gerak ini aku mewujudkan syukur akan segala yang beredar di orbit masing-masing. .

Memaknai hidup,

Tuhan memberikan pilihan untukku ketika masih berada dalam rahim seorang ibu, melanjutkan fitrah sebagai seorang hamba atau tetap berada dalam surga yang tinggi. Aku terlahir. Menghirup kehidupan layaknya manusia pada umumnya. Aku bergerak. Tumbuh. Dan akan dewasa. Aku telah memilih ketika Tuhan menanyakan keyakinanku. Memilih untuk terlahir. Sebagai mahluk Nya, aku adalah bagian dari semesta raya. Kecil. Namun aku sadar, dibalik kebesaran Nya aku akan miliki arti karena sosok ini memiliki jiwa yang hidup

Maka, perumpamaan itu merefleksikan fase kehidupan yang akan ku jalani. Dalam terang benderang ilmu pengetahuan dan sains aku akan menangkap sinyal nurani dari setiap jiwa. Mengembalikannya ke alam sebagai bagian yang telah diperkaya. Pada fase yang gemilang ini karya akan tercipta untuk alam, negeri dan cita orang-orang yang tercinta. Inilah masanya. Bukan kemarin, bukan esok, tapi hari ini.

Inilah cinta yang akan kupersembahkan untuk umat, untuk mereka yang memberikan cinta. .
2011-07-09 04:39

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...