Langsung ke konten utama

INI KELUARGA, BUKAN BADAN USAHA

Meskipun belum berkeluarga, saya memiliki keluarga seperti kebanyakan orang. Ada orang tua, kakak adik dan seorang nenek dari ibu. Keluarga besar kami hidup di kampung dan tinggal dalam jarak yang berdekatan bahkan bertetangga satu sama lain. Peristiwa apapun akan cepat terdengar oleh saudara kami. Keluarga yang sakit, membeli perabot atau kendaraan hingga menu masakan hari ini bisa kami ketahui dengan cepat. Jangan tanyakan bagaimana respon cepat antar keluarga jika ada sebuah kabar. Sigapnya keluarga lebih cepat dari akun BNPB Pusat. Hehe.

Suasana hidup yang bersama tak berarti kami tidak mandiri. Setiap kepala keluarga memiliki fungsinya sebagai pencari nafkah. Istri dan anak bisa membantu dengan bekerja sambilan untuk membantu perekonomian keluarga. Dalam momen pernikahan atau proses kelahiran, keluarga dekatlah yang justru paling lelah membantu ini dan itu.

Apa yang menyebabkan kita begitu dermawan kepada keluarga sendiri? Mengapa kita tidak pernah perhitungan terhadap mereka? Karena kita adalah keluarga, bukan badan usaha yang fokus pada laba. Dalam keadaan senang ataupun sedih, keluarga ibarat rumah yang selalu menerima kita beserta segudang persoalan yang mengikuti.

Nyatanya, kita tidak memikirkan untung rugi saat berbuat baik kepada keluarga sendiri. Apakah kita mempertaruhkan pekerjaan demi menghadiri sebuah pesta, menghabiskan tabungan untuk saudara yang membutuhkan atau mungkin bersedia menelpon dahulu ditengah jadwal akhir pekan yang hiruk pikuk. Saya berpikir bahwa uang habis atau tenaga terkuras habis demi mengurusi keluarga bukan hal yang merugikan sama sekali. Sayangnya kita lebih sering memutuskan untuk travelling ke luar negeri atau piknik ke pulau kecil nan eksotis daripada pulang atau mengunjungi saudara kandung.

Karena keluarga bukan badan usaha yang mengedepankan laba, kita sebagai bagian didalamnya tidak perlu khawatir jika melakukan banyak hal besar dalam hidup demi mereka. Apakah cita-cita hidup akan terhalang karena membantu keluarga? Apakah uang yang habis tidak akan kembali sebagai tetes-tetes rejeki? Apakah kita kehilangan lebih banyak daripada yang kita peroleh? Toh semuanya demi keluarga. Mengapa risau untuk hal-hal yang bisa dilakukan dan memperoleh pahala?

Ditulis sebelum Raamadhan dan diselesaikan 9 Ramadhan 1438 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...