Langsung ke konten utama

Akhir Hidup

Memasuki usia 27 tahun, aneka rupa pertanyaan mengenai hidup semakin meruncing. Tentang pernikahan, keluarga, berbakti kepada orang tua, religiusitas, konsistensi karir dan ranah sosial publik. Bagian mana yang terjangkau lebih dulu. Sisi mana yang masih terseok-seok. Apa yang sudah didapatkan selama lebih dari seperempat abad. Ramainya dunia pertemanan, relasi dan profesionalitas justru menenggelamkan diri pada kuantitas heningan yang semakin sering berkunjung. Bagaimana hidupmu Jilvia?

Sepanjang hidup yang entah akan sampai angka keberapa, kita selalu kurang puas terhadap hasil. Manusia memang tidak pernah puas terhadap suatu pencapaian. Ketika sudah memiliki rumah, kita ingin mengisi garasi dengan mobil. Ketika sudah S1, banyak usia baru menapaki 20an sudah menetapkan target ingin ambil magister atau program profesi.

Pada usia yang masih terhitung belasan, saya pernah memiliki sebuah harapan. Terpengaruh tontonan televisi yang sudah global pada saat itu. Saya berharap jika kematian telah datang, keluarga akan  memakamkan jenazah saya dibawah pohon kamboja. Agar guguran daun dan bunganya bisa menyejukkan gundukan tanah itu. Dimasa labil yang sungguh ceria, saya memikirkan kematian. Darimanapun asal ide itu saya merasa terlalu menjiwai tontonan saya. Sekalipun itu hal yang wajar bagi mahluk yang dijanjikan kepastian mati.

Berdiri diatas kaki sendiri membuat pandangan saya lebih jauh tapi terbatas. Akan menikahi orang yang seperti apa, akan bertemu dengan tetangga yang bagaimana, dan akan akan yang lain masih memenuhi kepala siang dan malam. Krisis seperempat abad sudah berjalan agak jauh. Sayangnya krisis fase berikutnya begitu mengganggu pikiran. Dimana saya akan mati dan dimakamkan? Bagaimana saya membekali anak cucu dengan ilmu? Bagaimana kehidupan mereka setelah saya mati? Ah. Saya terlalu memusingkan hari yang belum tentu jadi hak milik.

Orang-orang berkata kita harus menikmati hidup dan semua partisinya. Tenggelamlah dalam kebaikan dunia, perjuangkanlah akhirat. Tapi apakah kamu memikirkan bagaimana kamu akan mati? Maksudnya dalam keadaan apa nyawa akan tercabut dari jasad?

Pertanyaan seperti itu benar-benar mencekik. Sampai susah tidur. Sunguh-sungguh berpikir.

Jilvia Indyarti 👒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...