Langsung ke konten utama

Pulang Sendiri II


4 Desember 2013 pukul 10:12

[catatan perjalanan]

Mengawal cerita lagi agaknya sedikit horor jika diawali dengan kematian karena biasanya awal selalu dimulai dengan kelahiran, pagi atau kesemangatan. Bukit Damai Soropadan yang tidak lain kuburan/pemakaman non muslim mengambil lokasi strategis ditepi jalan raya yang ramai. Letaknya diperbukitan kecil dan berjejer-jejer rapi makam yang tidak horor menurut saya. Yang horor itu yang isinya mayat dengan kain kafan didalamnya.

I am here, Magelang Kota Harapan.

Mengapa Pemkot mengambil tagline yang penuh fisosofi itu? Sebuah harapan, tentu harapan hidup yang lebih baik dan lebih baik dalam artian sejahtera lahir dan batin. Ingat Magelang, ingat Artos. Pusat perbelanjaan baru yang mencolok dipertigaan paling strategis kota itu. Armada Town Square (Artos) yang berdiri megah belum ada dua tahun eksis dikawasan tersebut mampu mencuri mata setiap pengguna jalan. Konsep pusat perbelanjaan, hotel dan wisata menjadi satu. Saya sih belum pernah masuk kedalam dan melihat-lihat kekhasan dari Artos tetapi palingan juga tidak jauh beda dengan shopping center lain. Kawasan strategis ini dikelilingi oleh kompleks pertokoan yang terletak dijalan protokol arah Yogya dan disambut gedung DPRD ke arah Purworejo-Kebumen. Kalau disangkut pautkan dengan tagline Magelang, Artos boleh jadi sebuah harapan untuk masyarakat bekerja sebagai apapun itu disana. Pajak yang didapatkan pemkot juga bisa lumayan lho ya. Disisi lain kita melihat life style masyarakat yang mau tidak mau semakin hedonis dengan adanya Artos. Semoga sih ya memang masyrakat mengambil sisi baik dari itu semua.

Didepan sana ada RSJ Prof. Dr. Soerojo yang sudah terkenal dimana-mana. Bahkan dosen pemahaman individu, konseling agama, dan kesehetan mental saya berharap mahasiswanya bisa berkunjung kesana. Sekadar belajar bagaimana memberikan treatment kepada penyandang gangguang kejiwaan oleh para ahli. Hore-horelah anak satu kelas dan sudah cekikikan membayangkan betapa kerennya jika bisa berkunjung dan mendengarkan pengalaman ahli jiwa yang berkompeten. Harapan tinggal harapan. Mahasiswa disibukkan dengan tugas resume dan power point.

Melenggang dari Terminal Secang ditemanilah saya oleh pengamen yang membawakan lagu "Masih Ada Waktu"nya Om Ebiet. Maaf mas, uang saya tinggal 1200 perak. Nanti saya bayar pipisnya pakai apa kalo ini dikasih semua ke masnya. Ditengah lagu masnya sempat melebaikan diri -__- Suasana seperti ini mengingatkan saya pada kelakuan Menlu Unnes 2011 yang iseng merekam aksi pengamen di bus. Saat itu perjalanan menuju Yogyakarya dalam sebuah bus ekonomi yang penuh sesak. Gratis dari Mas Mentri. Asik. Kalau kami aktor jalanan yang akan turun ke jalan bersama teman-teman kami maka dia adalah aktor bus yang aksi setiap hari demi sesuap nasi. Beda tipis ya. Sama-sama dijalanan. Oke. Apakah rekaman itu masih ada? Bisa dishare dong ya Kak? :) Sekarang, mahal juga rasanya mendengarkan pengamen mesti merogoh 95K. Aw aw aw.

Selesai melakukan aksinya, si pengamen seperti biasa nodong penumpang yang masih punya recehan. Bukan hanya suara dan aksi yang lebai, penampilannya pun rada lebai untuk saya. Ebusyet. Kacamata warna coklat menutupi kedua matanya. Berbaju kotak-kotak. Aduh. Kenapa pula saya sampai tahu? Heuu -_-

Saya pikir harapan hidup di Magelang cukup tinggi, biaya hidupnya pun saya rasa begitu. Kendati demikian, menjadikan Magelang sebagai referensi tempat tinggal tidak akan mengecewakan. Transportasi lancar, akses ke Semarang atau Yogyakarta pun tidak sulit, banyak lembaga bimbingan belajar dan kursus, sekolah bertebaran, beberapa kampus swasta, komplek pertokoan dan pusat perbelanjaan, rumah sakit, balai rehabilitasi, pasar tradisional, show room mobil dan sepeda motor, bengkel, dan sebagainya. Disini terdapat SMA terbaik se-Indonesia (lupa tahun berapa) yang digandrungi anak-anak daerah, Taruna Nusantara.

Magelang yang mendung, dibuat shock dengan kehadiran pengamen suara cempreng didalam bus. Astaghfirullah. Kaget beneran. Genjrengan pertama sungguh memecah keheningan penumpang yang cuma beberapa orang. Lagu nyindir. Suara aneh. Masih kaget. Pengamen usil yang membuat tangan dan kaki saya lemas mendadak karena kaget.

Masih di Magelang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...