Langsung ke konten utama

Catatan tentang Hati



Dalam suatu siang sebelum PPL berakhir di pertengahan Oktober 2012, Bapak saya mengajak saya berbincang tentang hati. Murid-murid saya pasti kenal Bapak yang satu ini.
Beliau mengatakan bahwa dalam hidup dan pekerjaan akan banyak peristiwa, pengalaman, dan ujian yang datang. Kebanyakan dari kita stres dalam pikiran yang carut marut. Dibibirnya, senyum tidak terlarang bertandang. Hatinya tak gelisah oleh serangkaian kejadian membingungkan. Orang-orang seringkali bertanya kepada beliau mengapa bisa melewati berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan dengan tanpa beban pikiran yang berarti..

Betapa lepasnya beliau menertawakan hidup, terutama orang-orang yang keheranan melihatnya. Saya menangkap gurat pengalaman hidup yang beraneka rupa dan warna dari sudut matanya. Beliau tertawa. Seolah semuanya ada dalam genggaman tangannya. Pelan beliau mengatakannya, "Kalau kita bersedia menyisakan ruang kecil dalam hati kita. Tak usah banyak-banyak. Hanya sedikit saja. Kita tak akan buntu dalam menghadapi persoalan. Jangan isi penuh hati dan pikiran kita dengan pekerjaan, pendidikan, keluarga, anak-anak bahkan pasangan. Sisakan sedikit ruang didalamnya agar ketika persoalan hidup terlalu memenuhi kepala dan hati, masih ada ruang untuk kita berlari. Setidaknya dalam diri kita".

Cukup lama waktu bagi saya untuk mencerna kalimat yang beliau sampaikan. Beliau pun tidak terburu-buru untuk mengungkapkan hal lain. Begitulah curahan seorang Bapak kepada anaknya. Saya tidak merasa tengah diberikan wejangan oleh guru atau pimpinan. Beliau berkata perlahan seperti berbicara kepada anaknya sendiri. Memang, orang tua butuh didengarkan. Bukan saja ketika kita meminta nasihat tetapi ketika mereka ingin mengajari kita bagaimana caranya hidup.

Terimakasih Bapak, saya tidak tahu kenapa Bapak mengatakannya kepada saya bahkan dalam suasana yang tidak formal. Mungkinkah ada harapan besar yang diam-diam Bapak inginkan terjadi dalam kehidupan saya? Entahlah. Dari tiga bulan saya di sekolah, banyak kesan yang tercipta dan itu sangat bermakna sekali untuk saya dan kehidupan saya kelak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...