Langsung ke konten utama

Kebahagiaan yang Tidak Bisa Dibagi

Hendak memulai dari mana saya sulit untuk mengambil kata yang tepat dalam penggambaran kamu di hidup saya. Jika ada hari lain yang lebih baik, pasti akan saya pilih agar kita bisa melewatkannya bersama. Sayangnya, semua serba sudah diputuskan bukan saja oleh tanganku dan tangannya tetapi banyak orang yang berpengaruh. Waktu itu pun akan segera tiba. Bukan lagi dalam hitungan tahun dan bulan, hari itu benar-benar lebih cepat dari yang dibayangkan. Inilah saatnya.

Rasanya masih lekat dalam ingatan berbagai tingkah polah kita yang kekanak-kanakkan. Perdebatan panjang yang melelahkan dan tidak menghasilkan apa-apa selain jarak. Bagi saya, jarak itu bukan sebenar-benarnya jarak. Melainkan hati yang saling kukuh dengan pandangan diri sendiri. Kamu tahu, waktu itu terlalu cepat untuk membiarkan saya pergi memilih hidup yang lain. Sementara urusan kita berdiam tenang tanpa penyelesaian bijak. Separah itukah? Mungkin iya. Mungkin juga tidak jadi soal bagimu. Tetapi ada peran yang tidak bisa orang lain lakukan namun kamu bisa melakukannya.

Bukan penderitaan yang telah kamu torehkan sekalipun banyak irisan yang menyakitkan. Ada makna yang dalam dan mengena tentang persaudaraan. Dari sekian banyak yang menawarkan persaudaraan, kamulah yang tanpa syarat memposisikan diri sebagai saudara. Yang seharusnya saya dengarkan perkataan baiknya dan saya pedulikan kebutuhannya. Tugas saya untuk kamu cukup sederhana. Baiklah, kita menyebutnya perhatian dan kepedulian saja. Saya tak perlu selalu berada di sebelah kamu jika persoalan hidup membuatmu kebingungan. Saya juga tak perlu 100% paham segala yang kamu yakini. Saya hanya perlu memperhatikan kamu dan peduli atas apa-apa yang menimpa kamu. Ya. Sesederhana itu.

Diskusi kita selalu bernuansa perbedaan. Bahkan saling mempertahankan diri dalam keegoisan. Sekali lagi, semenyakitkan apapun kondisinya. Saya selalu mendengar kata-kata yang kamu ucapkan. Hanya saja mungkin belum sampai hati saya memahami kebaikan yang kamu sampaikan. Pikiran ini tetap positif untuk beranggapan, kamu telah memberikan banyak sekali dalam hidup saya.

Waktu itu semakin dekat. Kamu tahu? Sosokmu begitu dirindukan untuk saya temukan disana. Alasan apa lagi yang mesti saya lontarkan untuk memaksamu hadir dan saya bagi kebahagiaan yang tengah Allah berikan? Kebahagiaan saya tidak akan berkurang tanpa kamu. Benar. Tapi apakah kamu tahu rasanya berbahagia seorang diri?

Kamu bukan saudara biasa seperti mereka yang hadir dan pergi dalam hidup saya. Saudara saya yang satu ini punya tempat istimewa. Ibarat seorang kakak, ibarat seorang bapak, ibarat seorang kawan, ibarat seorang adik. Kamu menempati banyak peran dan menampilkannya dengan baik. Kamu sudah memberikan banyak untuk saya belajar kedewasaan. Meski setelah hari itu akan ada banyak hal tentu sudah berbeda tempatnya.

Pada akhirnya, kebahagiaan saya akan sangat bermakna jika kamu mau menerimanya, jika kamu mau melihatnya.  .

*untuk saudara yang tengah menjalani aktivitas publik. untuk saudara yang akan menjemput jodohnya. untuk saudara yang saling mendoakan dan menerima. . yakinlah, bahwa momentum kebahagiaan ini adalah salah satu dari banyak kebahagiaan yang akan Allah berikan meski kita nikmati ditempat yang tak lagi sama*

dari Semarang-Magelang untuk Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...