Langsung ke konten utama

Meninggalkan Desember


Ada yang memulai hari dengan orang tercinta. Memulai komitmen untuk tidak sendiri lagi mensyukuri hidup. Dengan pasangan yang memilih untuk bersama menikmati sisa waktu atau sebagai supporter bagi mereka yang terlahir pertama kali di bumi Nya. Detik yang berjalan semakin menyadarkan nurani bahwa keberadaan kita sungguh bermakna untuknya. Setiap ikhtiyar bernuansa demi kebahagiaannya.

Ada pula yang mengawali hari tanpa orang tercinta. Menapaki jalanan hidup yang tidak lagi dengannya. Mungkin pasangan, mungkin anak, mungkin orang tua. Atau orang yang begitu dekat dengan kita. Menyusuri setiap sudut ruang yang kosong saat memasuki rumah. Lengang. Dari suara yang merecoki, tingkah yang menjengkelkan atau ruang yang berantakan. Hidup tidak akan sama lagi seperti kemarin. Tanpa dia, mendadak hati dirundung sepi yang mendalam. Setelah babak penerimaan usai, kita memahami bahwa doa akan benar-benar berfungsi dengan baik. Paling tidak, ada ketenangan telah menyerahkan segala urusan pada Sang Pengatur.

Meninggalkan desember, matahari tetap malu-malu di musim penghujan. Seolah berdebat dengan hujan untuk saling mengawali tahun 2015. Jarak hari ini dan kemarin sangat jauh. Bukan karena hitungan tahun tetapi masa kini dan masa lalu tidak akan pernah bertemu. Hanya mengantarkan kita melewati dimensi ruang demi ruang.

Apa yang menyenangkan selama setahun kemarin? Anehnya kebahagiaan selalu menjadi fokus utama dalam mengarungi masa silam. Sejauh apapun jarak, serumit apapun hati. Aku masih saja denganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...